BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam
dunia modern seperti sekarang ini, hasil teknologi modern merata di segala
penjuru, tetapi penderi-taan yang dialami manusia sekarang juga tidak kalah
hebatnya dibandingkan dengan penderitaan yang dialami oleh nenek moyang kita.
Dengan maksud agar kita semua menyaksikan dan ikut merasakan atau mengalami
dari kejauhan.jelas bagi kita, bahwa penderitaan merupakan bagian
terpentingdari krhidupan manusia.
Bila
kita membaca buku riwayat hidup (biografi) dan riwayat hidup orang-orang besar,
semuanya dimulai dengan penderitaan, jarang ada yang langsung menjadi besar.
Seperti halnya Bung Hatta beberapa kali mengalami pembungan di tengah hutan
Irisn Jaya yang penuh belukar dan penyakit, namun Tuhan tetap melindunginya.
Dan akhirnya menjadi pemimpin bangsanya. Pada waktu kita membaca riwayat hidup
tokoh itu kita dihadapkan kepada jiwa besar, harga diri, berani karena benar,
rasa tanggung jawab, semangat membaja. Semua itu pelajaran yang sangat berharga
bagi kita
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa itu
penderitaan?
2.
Ada berapa
macam penderitaan?
3.
Apa saja yang
dapat menyebabkan seseorang menderita?
4.
Apa akibat dari
seseorang yang mengalami penderitaan?
C.
Tujuan
1.
Mengetahui
pengertian dari penderitaan.
2.
Mengetahui
macam-macam penderitaan.
3.
Mengetahui
sebab-sebab terjadinya penderitaan.
4.
Mengetahui
akibat-akibat dari seseorang yang mengalami penderitaan.
BAB II
ISI
A.
Penderitaan
Berasal
dari kata dasar derita, derita berasal dari bahasa Sansekerta, dhara yang
berarti menahan atau menanggung. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, derita
artinya menanggung (merasakan) sesuatu
yang tidak menyenangkan. Dengan demikian, penderitaan merupakan lawan kata dari
kesenangan atau-pun kegembiraan.
Setiap
yang disebut manusia selalu terdiri dari atas dua aspek, yaitu aspek jasmani
atau tubuh, dan aspek rohani atau jiwa. Dalam diri manusia, kedua aspek
tersebut tidak bisa dipisahkan. Apabila salah satu aspek tersebut hilang dari
diri manusia, akanada dua pengertianyang berbeda, yaitu tubuh tanpa jiwa akan
dinamakan mayat, sedangkan jiwa tanpa tubuh akan dinamakan jin atau
setan.
Baik
dalam Al-Qur’an maupun dalam kitab suci agama lain banyak surat dan ayat yang
menguraikan tentang penderitaan yang dialami manusia. Seperti pada surat
AL-Balad : 4
“Sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah” 2
Dan juga dalam
surat Al-Baqarah : 155
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah
berita gembira kepada orang-orang yang sabar”3
Penderitaan
merupakan salah satu resiko dalam kehidupan yang telah di gariskan oleh Yang
Mahakuasa, di samping kesenangan atau kebahagiaan yang diberikan kepada
umat-Nya. Namun, semua itu diberikan bukan tanpa rencana. Tuhan menciptakan
keduanya, terutama penderitaan atau kesedihan, dengan maksud agar manusia dalam
keadaan bahagia atau sedih, senang atau menderita, selalu ingat kepada-Nya dan
tidak memalingkan-Nya. Oleh karenanya, hal itu lebih bersifat ujian. Namun,
Tuhan tidak pernah memberikan ujian yang melebihi batas kemampuan manusia.
Dibandingkan
dengan makhluk lain ciptaan-Nya, kepada manusia sebagai homo religious, Tuhan
telah memberikan banyak kelebihan. Namun mampukah manusia mengendalikan diri
dengan kelebihan- nya itu untuk tidak melupakan-Nya? Bagi manusia yang tebal
imannya,, musibah yang dialami dengancepat menyadarkan dirinya dari kesalahan,
dan segera bertobat kepada-Nya. Manusia seperti ini selalu bersikap pasrah akan
nasib yang ditentukan Tuhan atas dirinya. Namun, kepasrahan di sini adalah
kepasrahan karena keyakinan bahwa kekuasaan Tuhan memang jauh lebih besar dari
dirinya, sehingga akan membuat manusia merasakan dirinya kecil dan menerima
takdir-Nya. Dengan begitu manusia akan memperoleh suatu kedamaian dalam hati
dan akan mengurangi penderitaan yang dialaminya. Dan bahkan akan menimbulkan
rasa syukur.
Dalam
menghadapi penderitaan fisik, manusia dapat mengatasinya secara medis.
Sedangkan psikis dapat juga dibantu penyembuhannya oleh tenaga-tenaga ahli,
psikolog atau psikiater, tetapi yang utama adalah si penderita itu sendiri
secara sadar wajib mengatasinya. Oleh karena itu, peranan para ahli hanya
membantu saja.
B.
Kekalutan
Mental
Penderitaan
batin dalam ilmu Psikologi dikenal sebagai kekalutan mental (mental disorder).
Menurut Kartini Kartono dalam bukunya Psikologi Abnormal & Pathologi
Seks, dapat secara sederhana dirumuskan bahwa kekalutan mental adalah
sebagai gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seorang menghadapi persoalan
yang harus diatasi, sehingga yang bersangkutan bertingkah secara kurang wajar.
Misalnya, sesorang tidak mampu mengerjakan soal ujian, menggigit-gigit pensil.
1.
Gejala-gejala
a)
Jasmaninya
sering merasakan sakit (pusing-pusing, sesak napas, demam, dan nyeri pada
lambung)
b)
Jiwanya sering
menunjukan rasa cemas, ketakutan, patah hati, dan mudah marah.
2.
Tahap-tahap
a)
Gangguan akan
tampak dalam gejala-gejala kehidupan penderitaan, baik pada jasmani atau
rohaninya.
b)
Usaha
mempertahankan diri dilakukan dengan cara negative, yaitu mundur atau lari. Hal
ini akan berbeda apabila menghadapi persoalan justru akan segera memecahkan
problema sehinggga tidak menekan perasaannya.
c)
Akhirnya
kekalutan merupakan titik patah, dan yang bersangkutan mengalami disorder (tidak
semestinya atau gangguan)
3.
Sebab-sebab
a)
Kepribadian
yang lemah akibat kondisi jasmani atau mental yang kurang sempurna. Merasa
rendah diri, lalu akan menyudutkan kedudukannya dan menghancurkan mentalnya.
b)
Terjadi konflik
social-budaya akibat adanya norma yang berbeda antara yang bersangkutan dan
yang ada dalam masyarakat, sehingga ia tidak dapat menyesuaikan diri lagi.
c)
Cara pematangan
batin yang salah dengan memberikan reaksi berlebihan terhadap kehidupan social.
4.
Akibat-akibat
a)
Positif, bila
trauma yang dialami seseorang akan dijawab secara baik sebagai usaha agar tetap
survive dalam hidup. Misalnya, melakukan sholat tahajud agar memperoleh
ketenangan.
b)
Negative, bila
trauma yang dialami tidak teratasi, sehingga frustasi. Bentuk frustasi sebagai
berikut:
1)
Agresi,
kemarahan yang meluap akibat emosi yang tidak terkendali.
2)
Regresi,
kembali kepada pola primitive atau kekanak-kanakan. (menjerit-jerit,dll)
3)
Fiksasi, berlaku
pada satu pola yang sama. (memukul-mukul dada sendiri, dll)
4)
Proyeksi, melemparkan
sikap-sikap sendiri yang negative pada orang lain.
5)
Indentifikasi, menyamakan
diri dengan seseorang yang sukses dalam imajinasi.
6)
Narsisme, self
love yang berlebihan, merasa dirinya lebih superior daripada orang laen
7)
Autisme, menutup
diri dari dunia riil, tidak ingin berkomunikasi dengan orang luar, ini dapat
menjuru ke sifat yang sinting.
5.
Cara
menghindari
a)
Memelihara
kesehatan jiwa, memiliki ciri-ciri seperti, memelihara tujuan hidup, bergairah
namun tenang serta harmonis (seimbang antara kemampuan dan tujuan).
b)
Melatih
berpikir dan berbuat wajar tanpa menggunakan cara yang negative. Dengan
positive thinking, yaitu berpikir jauh ke depan.
c)
Berani
mengatasi kesulitan sebagai respons terhadap tantangan yang dihadapi agar
dirinya survive dalam kehidupan.
d)
Berkomunikasi
dengan orang lain, terutama dengan para ahli (psikiater). Selain psikiater juga
dapat berkomunikasi kepada kawan akrab bias any dapat diajak bertukar pikiran,
sehingga membantu dalam meringankan masalah.
Penderitaan
maupun siksaan yang dialami oleh manusia memang merupakan beban berat,
mengakibatkan seseorang seolah-olah merasa bahwa dunia ini benar-benar
merupakan neraka dalam hidupnya. Oleh karena itu, biasanya terlontar kata-kata
lebih baik mati daripada hidup. Dengan pengertian bahwa dengan kematian, berakhirlah
penderitaan yang dialaminya. Itulah sebabnya, mereka yang terlalu menderita dan
merasa putus asa, lalu mengambil jalan “pintas”, yaitu bunuh diri.
C.
Siksaan
Siksaan
dapat diartikan sebagai siksaan badan atau juga berupa siksaan jiwa. Akibat
siksaan itu maka timbulah penderitaan. Masalah siksaan yang diuraikan hanya
bersifat psikis saja, yaitu sebagai berikut:
1.
Kebimbangan
Kebimbangan dialami seseorang apabila pada suatu saat ia tidak
dapat menentukan pilihan mana yang akan diambil. Karena semua masalah yang
dipilih sama baiknya, seseorang menjadi bimbang dalam menentukan pilihannya.
Akibatnya seseorang berada dalam keadaan tidak menentu sehingga saat itu ia
merasa sangat tersiksa dalam hidupnya. Keadaan tersebut akan berpengaruh
berbeda beda pada setiap orang, bagi yang lemah berfikirnya, karena masalah
kebimbangan akan lama dialami olehnya sehingga siksaan yang dirasakan menjadi
begitu lama. Bagi orang yang kuat pikirannya, ia akan cepat mengambil suatu
keputusan sehingga kebimbangan cepat teratasi.
2.
Kesepian
Kesepian dialami oleh seseorang berupa rasa sepi dalam dirinya atau
jiwanya. Hal ini akan terus dirasakan walaupun ia dalam keadaan ramai. Berbeda
dengan sepi yang dialami oleh pertapa atau biarawan yang tinggalnya di tempat
sepi. Walaupun tempat mereka sepi tetapi hati mereka tidak sepi. Seperti halnya
kebimbangan, kesepian juga perlu segera diatasi agar seseorang tidak terus
menerus merasakan penderitaan batin. Sebagai homo socius, seseorang
perlu kawan, untuk menghilangkan rasa kesepian, dan cepat mencari kawan untuk
berkomunikasi. Pada umumnya orang yang dapat dijadikan “kawan duka” adalah
orang yang dapat mengerti dan menghayati kesepian yang dialami oleh sahabatnya
itu. Selain itu seseorang juga perlu mengisi waktunya dengan suatu kesibukan,
sehingga rasa kesepian tidak lagi memperoleh tempat yang menyita waktu dalam
dirinya.
3.
Ketakutan
Ketakutan merupakan salah satu sebab seseorang mengalami
siksaanatau penderitaan batin. Apabila di besar-besarkan tidak pada tempatnya
disebut phobia. Sebab-sebab seseorang merasa ketakutan:
a)
Claustrophobia
Ketakuatan yang timbul apabila
seseorang berada dalam ruangan tertutup, misalnya yang terjadi pada anak kecil
atau juga ada kalanya orang dewasa. Misalnya, merasa takut apabila harus tidur
sendirian di kamar tertutup.
b)
Agoraphobia
Ketakutan yang timbul apabila
seseorang berada pada tempat terbuka. Misalnya, seseorang merasa takut karena
harus menempati suatu rumah yang terlalu besar menurut ukurannya.
c)
Actophobia
Disebut juga gamang ketakutan yang
timbul apabila seseorang berada ditempat yang tinggi (jawa: mbediding).
Misalnya, merasa takut melewati jembatan yang sempit yang dibawahnya ada air
mengalir.
d)
Kegelapan
Ketakutan yang timbul apabila berada
di tempat yang gelap. Dalam pikirannya, dalam kegelapan akan muncul sesuatuyang
ditakutkan, misalnya setan atau pencuri. Karena itu, orang demikian menghendaki
agar lampu ruangan tempat tidurnya selalu dinyalakan.
e)
Kesakitan
Ketakutan yang disebabkan oleh rasa
sakit yang dialami. Misalnya, seseorang yang takut dengan jarum suntik bahkan
meronta-ronta sebelum jarum suntik ditusukan kedalam tubuhnya. Hal itu
disebabkan pikirannya telah membayangkan terlebih dahulu rasa sakit yang akan
dirasakan.
f)
Kegagalan
Ketakutan dari seseorang karena merasa bahwa apa yang akan
dijalankanya tidak berhasil. Misalnya, sesorang yang patah hati tidak mudah
untuk mencintai lagi karena takut akan gagal lagi atau trauma seperti yang
pernah dialaminya. Karena selalu berfikir demikian, ketakutan dalam dirinya
tidak pernah hilang (rasa takut gagal).
Berdasarkan
pernyataan-pernyataan diatas, kita dapat memahami bahwa soal ketakutan merupa-kan
hal-hal yang lebih bersifat psikis. Usaha untuk mengatasinya haruslah dengan
jalan merasionalkan cara berfikir. Apabila cara berfikir orang ketakutan itu
telah rasional, dengan sendirinya ketakutan akan hilang. Untuk itu kepada orang
yang ketakutan perlu diberi pengertian.
Benarkah
orang yang meninggal, terutama yang memakai jalan bunuh diri sudah lepas dari
penderitaan? Jawabanya adalah tidak, karena ajaran agama pada umumnya
mengatakan bahwa tuhan tidak dapat menerima mereka yang bunuh diri di surga,
karena bunuh diri dianggap telah melampaui-Nya dalam menentukan nasib.
D.
RASA SAKIT
Rasa
sakit adalah rasa tidak enak bagi si penderita. Rasa sakit itu akibat menderita
penyakit atau sakit. Penyakit atau sakit sehingga ada rasa sakit, dapat menimpa
setiap manusia hidup dan tidak dapat di pisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Penderitaan, rasa sakit, dan siksaan merupakan rangkaian sebab akibat. Rasa
sakit atau sakit dalam pengalaman hidup
sehari-hari ada tiga macam, yaitu sakit hati, sakit jiwa, sakit fisik. Sakit
hati bermacam-macam jenis dan sifatnya. Sakit hati dapat menyebabkan orang
berfikir yang akibatnya dapat menjadikan penderita sakit fisik. Rasa sakit
banyak hikmahnya antara lain dapat mendekatkan diri kepada Tuhan, membuka rasa
keprihatinan manusia, rasa sosial, dermawan, dan lainnya.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari
rumusan masalah yang ada, dapat disimpulkan bahwa penderitaan adalah menanggung
atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan.Penderitaan merupakan resiko
dalam hidup yang telah digariskan oleh Tuhan.
Penderitaan dapat berupa penderitaan fisik dan
penderitaan batin.Penderitaan batin contohnya adalah kekalutan mental yaitu
gangguan kejiwaan karena ketidakmampuan menghadapi persoalan yang seharusnya
diatasi, sehingga menyebabkan seseorang melakukan hal yang tidak wajar.
Salah
satu penyebab penderitaan adalah sikasaan.Akibat dari siksaan muncullah
penderitaan.Selain itu ketakutan juga menjadi penyebab penderitaan. Ketakutan
sendiri dapat diatasi dengan merasionalkan pikiran,dengan cara berpikir
rasional ketakutan itu dengan sendirinya dapat hilang.
Penderitaan
dapat mengakibatkan rasa sakit, baik sakit hati,sakit jiwa ataupun sakit fisik.
Namun meski demikian penderitaan tetap membawa banyak hikmah bagi kita, dengan
adanya penderitaan dapat membuat kita lebih dekat kepada Sang Khalik, seberat
apapun penderitaan yang kita rasakan, yakinlah bahwa kita dapat menanggung
penderitaan tersebut. Karna kita mempunyai Tuhan Yang Maha Besar.
B.
Saran
Penulis
menyadari bahwa makalah dengan judul “Manusia dan Penderitaan” ini mungkin
masih terdapat banyak kekurangan.Oleh karena itu kritik dari para pembaca
sangat penulis tunggu dalam rangka menopang kekurangan dalam daya pikir ini.
Widyosiswoyo,
supartono. 1983. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Widagho, Djoko.
2010.Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: PT Bumi Aksara.