Selasa, 08 Desember 2015

pengantar studi islam

Samuel P. Huntington adalah Guru Besar sekaligus Ketua Jurusan Ilmu Politik di Universitas Harvard dan Ketua Harvard Academy untuk Kajian Internasional dan Regional di Weather head Center for International Affairs. Beliau meneliti pelbagai perubahan yang menonjol menyangkut persoalan identitas nasional Amerika dan implikasi-implikasi terhadap peran Amerika di dunia internasional.

Buku berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia ini merupakan karya monumentalnya yang telah dialihbahasakan ke dalam puluhan bahasa. Sebuah Tesis benturan antar peradaban ala Huntington ini  banyak mengundang kontroversi dari dunia internasional. Mengapa kontroversial ? Salah satu Pendasaran jawaban atas pertanyaan tersebut bisa ditemukan dalam buku ini ; yakni “ bahwa masa depan politik dunia di masa datang tidak lagi berupa ideologi atau ekonomi, melainkan budaya”.

lebih lanjut silahkan download di sini

nilai-nilai perjanjian hudaibiyah

Pada bulan Dzu al-Qa’idah 6 H Rasulullah dan sekitar 1.400 sahabatnya berangkat ke Makkah untuk menunaikan umrah dan haji. Mereka sudah mengenakan pakaian ihram sebelum berangkat jauh dari Madinah dan membawa hewan-hewan untuk disembelih di Mina, agar tidak ada prasangka yang bukan-bukan dari kaum Quraisy. Tidak ada senjata yang mereka bawa selain pedang yang tersimpan pada sarungnya sekedar untuk menjaga diri selama dalam perjalanan. Kafir Quraisy tidak menghendaki kaum Muslim memasuki kota Makkah, karena apapun alasannya, menurut mereka hal ini berarti kemenangan bagi kaum Muslim. Oleh karena itu, mereka mengirim pasukan di bawah pimpinan Khalid bin Walid untuk menghadang rombongan Rasulullah sebelum tiba bulan-bulan haram dan sebelum sampai di kota Makkah. Kaum Muslim dapat menghindari pertemuan dengan pasukan Khalid dengan menempuh jalan lain, sehingga ketika masuk bulan haram mereka sudah sampai Hudaibiyah, beberapa mil dari kota Makkah. 
untuk lebih lanjutnya silahkan download filenya di sini, semoga bermanfaat kawan...!!

Senin, 07 Desember 2015

manusia dan penderitaan (ilmu budaya dasar)



BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Dalam dunia modern seperti sekarang ini, hasil teknologi modern merata di segala penjuru, tetapi penderi-taan yang dialami manusia sekarang juga tidak kalah hebatnya dibandingkan dengan penderitaan yang dialami oleh nenek moyang kita. Dengan maksud agar kita semua menyaksikan dan ikut merasakan atau mengalami dari kejauhan.jelas bagi kita, bahwa penderitaan merupakan bagian terpentingdari krhidupan manusia.
Bila kita membaca buku riwayat hidup (biografi) dan riwayat hidup orang-orang besar, semuanya dimulai dengan penderitaan, jarang ada yang langsung menjadi besar. Seperti halnya Bung Hatta beberapa kali mengalami pembungan di tengah hutan Irisn Jaya yang penuh belukar dan penyakit, namun Tuhan tetap melindunginya. Dan akhirnya menjadi pemimpin bangsanya. Pada waktu kita membaca riwayat hidup tokoh itu kita dihadapkan kepada jiwa besar, harga diri, berani karena benar, rasa tanggung jawab, semangat membaja. Semua itu pelajaran yang sangat berharga bagi kita
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa itu penderitaan?
2.      Ada berapa macam penderitaan?
3.      Apa saja yang dapat menyebabkan seseorang menderita?
4.      Apa akibat dari seseorang yang mengalami penderitaan?
C.     Tujuan
1.      Mengetahui pengertian dari penderitaan.
2.      Mengetahui macam-macam penderitaan.
3.      Mengetahui sebab-sebab terjadinya penderitaan.
4.      Mengetahui akibat-akibat dari seseorang yang mengalami penderitaan.





BAB II
ISI
A.     Penderitaan
Berasal dari kata dasar derita, derita berasal dari bahasa Sansekerta, dhara yang berarti menahan atau menanggung. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, derita artinya  menanggung (merasakan) sesuatu yang tidak menyenangkan. Dengan demikian, penderitaan merupakan lawan kata dari kesenangan atau-pun kegembiraan.
Setiap yang disebut manusia selalu terdiri dari atas dua aspek, yaitu aspek jasmani atau tubuh, dan aspek rohani atau jiwa. Dalam diri manusia, kedua aspek tersebut tidak bisa dipisahkan. Apabila salah satu aspek tersebut hilang dari diri manusia, akanada dua pengertianyang berbeda, yaitu tubuh tanpa jiwa akan dinamakan mayat, sedangkan jiwa tanpa tubuh akan dinamakan jin atau setan.[1]
Baik dalam Al-Qur’an maupun dalam kitab suci agama lain banyak surat dan ayat yang menguraikan tentang penderitaan yang dialami manusia. Seperti pada surat AL-Balad : 4
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah” 2 [2]
Dan juga dalam surat Al-Baqarah : 155
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”3[3]
Penderitaan merupakan salah satu resiko dalam kehidupan yang telah di gariskan oleh Yang Mahakuasa, di samping kesenangan atau kebahagiaan yang diberikan kepada umat-Nya. Namun, semua itu diberikan bukan tanpa rencana. Tuhan menciptakan keduanya, terutama penderitaan atau kesedihan, dengan maksud agar manusia dalam keadaan bahagia atau sedih, senang atau menderita, selalu ingat kepada-Nya dan tidak memalingkan-Nya. Oleh karenanya, hal itu lebih bersifat ujian. Namun, Tuhan tidak pernah memberikan ujian yang melebihi batas kemampuan manusia.
Dibandingkan dengan makhluk lain ciptaan-Nya, kepada manusia sebagai homo religious, Tuhan telah memberikan banyak kelebihan. Namun mampukah manusia mengendalikan diri dengan kelebihan- nya itu untuk tidak melupakan-Nya? Bagi manusia yang tebal imannya,, musibah yang dialami dengancepat menyadarkan dirinya dari kesalahan, dan segera bertobat kepada-Nya. Manusia seperti ini selalu bersikap pasrah akan nasib yang ditentukan Tuhan atas dirinya. Namun, kepasrahan di sini adalah kepasrahan karena keyakinan bahwa kekuasaan Tuhan memang jauh lebih besar dari dirinya, sehingga akan membuat manusia merasakan dirinya kecil dan menerima takdir-Nya. Dengan begitu manusia akan memperoleh suatu kedamaian dalam hati dan akan mengurangi penderitaan yang dialaminya. Dan bahkan akan menimbulkan rasa syukur.[4]
Dalam menghadapi penderitaan fisik, manusia dapat mengatasinya secara medis. Sedangkan psikis dapat juga dibantu penyembuhannya oleh tenaga-tenaga ahli, psikolog atau psikiater, tetapi yang utama adalah si penderita itu sendiri secara sadar wajib mengatasinya. Oleh karena itu, peranan para ahli hanya membantu saja.[5]
B.     Kekalutan Mental
Penderitaan batin dalam ilmu Psikologi dikenal sebagai kekalutan mental (mental disorder). Menurut Kartini Kartono dalam bukunya Psikologi Abnormal & Pathologi Seks, dapat secara sederhana dirumuskan bahwa kekalutan mental adalah sebagai gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seorang menghadapi persoalan yang harus diatasi, sehingga yang bersangkutan bertingkah secara kurang wajar. Misalnya, sesorang tidak mampu mengerjakan soal ujian, menggigit-gigit pensil.
1.      Gejala-gejala
a)      Jasmaninya sering merasakan sakit (pusing-pusing, sesak napas, demam, dan nyeri pada lambung)
b)      Jiwanya sering menunjukan rasa cemas, ketakutan, patah hati, dan mudah marah.
2.      Tahap-tahap
a)      Gangguan akan tampak dalam gejala-gejala kehidupan penderitaan, baik pada jasmani atau rohaninya.
b)      Usaha mempertahankan diri dilakukan dengan cara negative, yaitu mundur atau lari. Hal ini akan berbeda apabila menghadapi persoalan justru akan segera memecahkan problema sehinggga tidak menekan perasaannya.
c)      Akhirnya kekalutan merupakan titik patah, dan yang bersangkutan mengalami disorder (tidak semestinya atau gangguan)


3.      Sebab-sebab
a)      Kepribadian yang lemah akibat kondisi jasmani atau mental yang kurang sempurna. Merasa rendah diri, lalu akan menyudutkan kedudukannya dan menghancurkan mentalnya.
b)      Terjadi konflik social-budaya akibat adanya norma yang berbeda antara yang bersangkutan dan yang ada dalam masyarakat, sehingga ia tidak dapat menyesuaikan diri lagi.
c)      Cara pematangan batin yang salah dengan memberikan reaksi berlebihan terhadap kehidupan social.
4.      Akibat-akibat
a)      Positif, bila trauma yang dialami seseorang akan dijawab secara baik sebagai usaha agar tetap survive dalam hidup. Misalnya, melakukan sholat tahajud agar memperoleh ketenangan.
b)      Negative, bila trauma yang dialami tidak teratasi, sehingga frustasi. Bentuk frustasi sebagai berikut:
1)      Agresi, kemarahan yang meluap akibat emosi yang tidak terkendali.
2)      Regresi, kembali kepada pola primitive atau kekanak-kanakan. (menjerit-jerit,dll)
3)      Fiksasi, berlaku pada satu pola yang sama. (memukul-mukul dada sendiri, dll)
4)      Proyeksi, melemparkan sikap-sikap sendiri yang negative pada orang lain.
5)      Indentifikasi, menyamakan diri dengan seseorang yang sukses dalam imajinasi.
6)      Narsisme, self love yang berlebihan, merasa dirinya lebih superior daripada orang laen
7)      Autisme, menutup diri dari dunia riil, tidak ingin berkomunikasi dengan orang luar, ini dapat menjuru ke sifat yang sinting.
5.      Cara menghindari
a)      Memelihara kesehatan jiwa, memiliki ciri-ciri seperti, memelihara tujuan hidup, bergairah namun tenang serta harmonis (seimbang antara kemampuan dan tujuan).
b)      Melatih berpikir dan berbuat wajar tanpa menggunakan cara yang negative. Dengan positive thinking, yaitu berpikir jauh ke depan.
c)      Berani mengatasi kesulitan sebagai respons terhadap tantangan yang dihadapi agar dirinya survive dalam kehidupan.
d)      Berkomunikasi dengan orang lain, terutama dengan para ahli (psikiater). Selain psikiater juga dapat berkomunikasi kepada kawan akrab bias any dapat diajak bertukar pikiran, sehingga membantu dalam meringankan masalah.
Penderitaan maupun siksaan yang dialami oleh manusia memang merupakan beban berat, mengakibatkan seseorang seolah-olah merasa bahwa dunia ini benar-benar merupakan neraka dalam hidupnya. Oleh karena itu, biasanya terlontar kata-kata lebih baik mati daripada hidup. Dengan pengertian bahwa dengan kematian, berakhirlah penderitaan yang dialaminya. Itulah sebabnya, mereka yang terlalu menderita dan merasa putus asa, lalu mengambil jalan “pintas”, yaitu bunuh diri.[6]
C.     Siksaan
Siksaan dapat diartikan sebagai siksaan badan atau juga berupa siksaan jiwa. Akibat siksaan itu maka timbulah penderitaan. Masalah siksaan yang diuraikan hanya bersifat psikis saja, yaitu sebagai berikut:
1.      Kebimbangan
Kebimbangan dialami seseorang apabila pada suatu saat ia tidak dapat menentukan pilihan mana yang akan diambil. Karena semua masalah yang dipilih sama baiknya, seseorang menjadi bimbang dalam menentukan pilihannya. Akibatnya seseorang berada dalam keadaan tidak menentu sehingga saat itu ia merasa sangat tersiksa dalam hidupnya. Keadaan tersebut akan berpengaruh berbeda beda pada setiap orang, bagi yang lemah berfikirnya, karena masalah kebimbangan akan lama dialami olehnya sehingga siksaan yang dirasakan menjadi begitu lama. Bagi orang yang kuat pikirannya, ia akan cepat mengambil suatu keputusan sehingga kebimbangan cepat teratasi.
2.      Kesepian
Kesepian dialami oleh seseorang berupa rasa sepi dalam dirinya atau jiwanya. Hal ini akan terus dirasakan walaupun ia dalam keadaan ramai. Berbeda dengan sepi yang dialami oleh pertapa atau biarawan yang tinggalnya di tempat sepi. Walaupun tempat mereka sepi tetapi hati mereka tidak sepi. Seperti halnya kebimbangan, kesepian juga perlu segera diatasi agar seseorang tidak terus menerus merasakan penderitaan batin. Sebagai homo socius, seseorang perlu kawan, untuk menghilangkan rasa kesepian, dan cepat mencari kawan untuk berkomunikasi. Pada umumnya orang yang dapat dijadikan “kawan duka” adalah orang yang dapat mengerti dan menghayati kesepian yang dialami oleh sahabatnya itu. Selain itu seseorang juga perlu mengisi waktunya dengan suatu kesibukan, sehingga rasa kesepian tidak lagi memperoleh tempat yang menyita waktu dalam dirinya.

3.      Ketakutan
Ketakutan merupakan salah satu sebab seseorang mengalami siksaanatau penderitaan batin. Apabila di besar-besarkan tidak pada tempatnya disebut phobia. Sebab-sebab seseorang merasa ketakutan:
a)      Claustrophobia
Ketakuatan yang timbul apabila seseorang berada dalam ruangan tertutup, misalnya yang terjadi pada anak kecil atau juga ada kalanya orang dewasa. Misalnya, merasa takut apabila harus tidur sendirian di kamar tertutup.

b)      Agoraphobia
Ketakutan yang timbul apabila seseorang berada pada tempat terbuka. Misalnya, seseorang merasa takut karena harus menempati suatu rumah yang terlalu besar menurut ukurannya.
c)      Actophobia
Disebut juga gamang ketakutan yang timbul apabila seseorang berada ditempat yang tinggi (jawa: mbediding). Misalnya, merasa takut melewati jembatan yang sempit yang dibawahnya ada air mengalir.
d)      Kegelapan
Ketakutan yang timbul apabila berada di tempat yang gelap. Dalam pikirannya, dalam kegelapan akan muncul sesuatuyang ditakutkan, misalnya setan atau pencuri. Karena itu, orang demikian menghendaki agar lampu ruangan tempat tidurnya selalu dinyalakan.
e)      Kesakitan
Ketakutan yang disebabkan oleh rasa sakit yang dialami. Misalnya, seseorang yang takut dengan jarum suntik bahkan meronta-ronta sebelum jarum suntik ditusukan kedalam tubuhnya. Hal itu disebabkan pikirannya telah membayangkan terlebih dahulu rasa sakit yang akan dirasakan.
f)       Kegagalan
Ketakutan dari seseorang karena merasa bahwa apa yang akan dijalankanya tidak berhasil. Misalnya, sesorang yang patah hati tidak mudah untuk mencintai lagi karena takut akan gagal lagi atau trauma seperti yang pernah dialaminya. Karena selalu berfikir demikian, ketakutan dalam dirinya tidak pernah hilang (rasa takut gagal).
Berdasarkan pernyataan-pernyataan diatas, kita dapat memahami bahwa soal ketakutan merupa-kan hal-hal yang lebih bersifat psikis. Usaha untuk mengatasinya haruslah dengan jalan merasionalkan cara berfikir. Apabila cara berfikir orang ketakutan itu telah rasional, dengan sendirinya ketakutan akan hilang. Untuk itu kepada orang yang ketakutan perlu diberi pengertian.
Benarkah orang yang meninggal, terutama yang memakai jalan bunuh diri sudah lepas dari penderitaan? Jawabanya adalah tidak, karena ajaran agama pada umumnya mengatakan bahwa tuhan tidak dapat menerima mereka yang bunuh diri di surga, karena bunuh diri dianggap telah melampaui-Nya dalam menentukan nasib.[7]
D.     RASA SAKIT
Rasa sakit adalah rasa tidak enak bagi si penderita. Rasa sakit itu akibat menderita penyakit atau sakit. Penyakit atau sakit sehingga ada rasa sakit, dapat menimpa setiap manusia hidup dan tidak dapat di pisahkan dari kehidupan sehari-hari. Penderitaan, rasa sakit, dan siksaan merupakan rangkaian sebab akibat. Rasa sakit atau sakit  dalam pengalaman hidup sehari-hari ada tiga macam, yaitu sakit hati, sakit jiwa, sakit fisik. Sakit hati bermacam-macam jenis dan sifatnya. Sakit hati dapat menyebabkan orang berfikir yang akibatnya dapat menjadikan penderita sakit fisik. Rasa sakit banyak hikmahnya antara lain dapat mendekatkan diri kepada Tuhan, membuka rasa keprihatinan manusia, rasa sosial, dermawan, dan lainnya.[8]







BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Dari rumusan masalah yang ada, dapat disimpulkan bahwa penderitaan adalah menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan.Penderitaan merupakan resiko dalam hidup yang telah digariskan oleh Tuhan.
Penderitaan dapat berupa penderitaan fisik dan penderitaan batin.Penderitaan batin contohnya adalah kekalutan mental yaitu gangguan kejiwaan karena ketidakmampuan menghadapi persoalan yang seharusnya diatasi, sehingga menyebabkan seseorang melakukan hal yang tidak wajar.
Salah satu penyebab penderitaan adalah sikasaan.Akibat dari siksaan muncullah penderitaan.Selain itu ketakutan juga menjadi penyebab penderitaan. Ketakutan sendiri dapat diatasi dengan merasionalkan pikiran,dengan cara berpikir rasional ketakutan itu dengan sendirinya dapat hilang.
Penderitaan dapat mengakibatkan rasa sakit, baik sakit hati,sakit jiwa ataupun sakit fisik. Namun meski demikian penderitaan tetap membawa banyak hikmah bagi kita, dengan adanya penderitaan dapat membuat kita lebih dekat kepada Sang Khalik, seberat apapun penderitaan yang kita rasakan, yakinlah bahwa kita dapat menanggung penderitaan tersebut. Karna kita mempunyai Tuhan Yang Maha Besar.
B.     Saran
Penulis menyadari bahwa makalah dengan judul “Manusia dan Penderitaan” ini mungkin masih terdapat banyak kekurangan.Oleh karena itu kritik dari para pembaca sangat penulis tunggu dalam rangka menopang kekurangan dalam daya pikir ini.









DAFTAR PUSTAKA
Widyosiswoyo, supartono. 1983. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Widagho, Djoko. 2010.Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: PT Bumi Aksara.


[1] Drs. Supartono Widyosiswoyo, MM. Ilmu Budaya Dasar, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2009). hlm. 102.
[2]Djoko Widagho, Ilmu Budaya Dasar, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010). Hlm. 101.
[3]Ibid.,hlm. 81.
[4]Ibid., hlm. 103-104.
[5]Ibid., hlm. 105.
[6]Ibid., hlm. 109-112.
[7]Ibid., hlm. 106-108.
[8] Widhago, Ilmu Budaya Dasar. hlm. 102.