Senin, 28 September 2015

SEKILAS UIN KU SUKA

 

  

  • Prakemerdekaan

Keinginan untuk mendirikan lembaga pendidikan tinggi Islam yang sudah dirintis sejak zaman penjajahan. Dr. Satiman Wirjosandjojo di Pedoman Masyarakat Nomor 15 Tahun W (1938) pernah melontarkan gagasan pentingnya sebuah lembaga pendidikan tinggi Islam dalam upaya mengangkat harga diri kaum muslimin di tanah Hindia Belanda.
  • Masa revolusi kemerdekaan

Gagasan Dr. Satiman Wirjosandjojo tersebut terwujud pada tanggal 8 Juli 1945 ketika Sekolah Tinggi Islam (STI) berdiri di Jakarta di bawah pimpinan Prof. Abdul Kahar Muzakkir, sebagai realisasi kerja yayasan Badan Pengurus Sekolah Tinggi Islam yang dipimpin oleh Drs. Mohammad Hatta sebagai ketua dan M. Natsir sebagai sekretaris. Pada masa revolusi, STI ikut Pemerintah Pusat RI hijrah ke Yogyakarta. Pada tanggal 10 April 1946, STI dapat dibuka kembali di kota Yogyakarta.
Pada bulan Nopember 1947 dibentuk panitia perbaikan STI, yang dalam sidangnya sepakat mendirikan Universitas Islam Indonesia (UII) pada tanggal 10 Maret 1948 dengan empat fakultas: Agama, Hukum, Ekonomi, dan Pendidikan. Tanggal 20 Februari 1951, Perguruan Tinggi Islam Indonesia (PTII) yang berdiri di Surakarta pada 22 Januari 1950 bergabung dengan UII yang berkedudukan di Yogyakarta.
  • Pasca revolusi kemerdekaan

Sebagai wujud penghargaan Pemerintah bagi Yogyakarta sebagai kota revolusi, kepada golongan nasionalis diberikan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang diatur berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 37 tahun 1950. Sementara itu, kepada golongan Islam diberikan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN), yang diambil dari Fakultas Agama UII, berdasarkan Peraturan Pemerintah No.34 Tahun 1950. Pada tanggal 26 September 1951, PTAIN diresmikan dengan memiliki tiga jurusan, yaitu : Jurusan Dakwah (kelak menjadi Fakultas Ushuludin), Qodlo (menjadi Fakultas Syari'ah), dan Pendidikan (menjadi Fakultas Tarbiyah).
Sementara itu, di Jakarta, pada tanggal 14 Agustus 1957, berdiri pula Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) berdasarkan Penetapan Menteri Agama No. 1 Tahun 1957.
  • Menjadi IAIN

Dalam rangka menjadikan PTAIN Yogyakarta dan ADIA Jakarta lebih memenuhi kebutuhan umat Islam akan pendidikan tinggi Agama Islam, maka dikeluarkanlah Peraturan Presiden Nomor 11 Tahun 1960 tentang Pembentukan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Al-Jami'ah Al-Islamiyah Al-Hukumiyah yang berkedudukan di Yogyakarta. Dengan PTAIN sebagai induk dan ADIA Jakarta sebagai fakultas dari Institut tersebut. IAIN ini diresmikan pada tanggal 24 Agustus 1960 di Yogyakarta oleh Menteri Agama pada saat itu yaitu K.H.M. Wahib Wahab dengan Prof. Mr. Sunarjo sebagai rektornya. IAIN Al-Jami'ah Al-Islamiyah Al-Hukumiyah inilah IAIN pertama di Indonesia.
Perkembangan IAIN yang pesat menyebabkan dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 1963 yang memungkinkan didirikannya suatu IAIN yang terpisah dari pusat (Yogyakarta). Tentunya IAIN baru tersebut adalah IAIN Jakarta.
Berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 26 Tahun 1965, maka terhitung sejak 1 Juli 1965, IAIN di Yogyakarta diberi nama Sunan Kalijaga, nama seorang tokoh terkenal penyebar Islam di Indonesia.
Tanggal berdiri IAIN Sunan Kalijaga diambil dari diresmikannya PTAIN yaitu 26 September 1951. Penetapan ini dikuatkan dengan Keputusan Menteri Agama No. 39 Tahun 1993.
  • Universitas Islam negeri

Secara kelembagaan, kini IAIN Sunan Kalijaga telah melakukan transformasi menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional dan Menteri Agama Nomor 01/0/SKB/2004 dan Nomor ND/B.V/I/Hk.001/058/04 Tanggal 23 Januari 2004, yang diperkuat lagi dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2004 Tanggal 21 Juni 2004. Transformasi tersebut mendorong UIN Sunan Kalijaga melakukan pembenahan dan pengembangan di berbagai bidang, termasuk bidang manajemen dan akademik. Kerjasama dengan berbagai pihak baik dengan pihak di luar negeri maupun di luar negeri juga sedang dibangun.

Fakultas-fakultas

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga memiliki 8 fakultas, yaitu:


Fakultas Adab dan Ilmu Budaya
Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Fakultas Syari'ah dan Hukum
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
Fakultas Sains dan Teknologi
Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam

Peringkat Dunia

  • Rangking 54 di Indonesia, ranking 1 di antara PTAIN, ranking 3236 di dunia versi Webometrics Februari 2013.
  • Rangking 37 di Indonesia versi 4icu.org

Rektor

  1. K.H.R. Muhammad Adnan (1951-1959)
  2. Prof. Dr. H. Mukhtar Yahya (1959-1960)
  3. Prof. R.H.A. Soenarjo, SH (1960-1972)
  4. Drs. H. Bakri Syahid (1972-1976)
  5. Prof. H. Zaini Dahlan, MA (1976-1983)
  6. Prof. Dr. H.A. Mu'in Umar (1983-1992)
  7. Prof. Dr. Simuh (1992-1996)
  8. Prof. Dr. H.M. Atho Mudzhar (1997-2001)
  9. Prof. Dr. H.M. Amin Abdullah (2001-2010)
  10. Prof. Dr. H. Musa Asy’arie (2010-Sekarang)


    artikel di sunting disini

edelweis dan misterinya



               Ada beberapa macem Bunga Edelweiss bisa ditemukan di beberapa lereng Gunung, meskipun masih termasuk keluarga Edelweiss Jawa, masing masing memiliki keunikan warna yang berbeda. Konon bila diberikan pada Kekasih sebelum benar-benar mekar, beberapa hari kemudian bunga abadi ini akan mekar dan muncul warna yang berbeda setelah kelopaknya mekar. Dari setiap warna,terkandung makna yang berbeda beda.
                Jadi ini kisahku saat pertama menemukan dan mengerti arti Bunga Keabadian ini.Dari pintu gerbang Cemoro Kandang setelah mendaftar di Pos awal dibutuhklan waktu 8-10 jam  untuk sampai di puncak, tidak terlalu sulit untuk melewati jalur ini. 1 jam perjalanan melewati hutan cemara dan pinus akan sampai di Pos I Taman Sari bawah, sejam kemudian sampailah di Pos II Taman Sari atas, disini akan mulai terasa aroma cukup menyengat, itu adalah bau gas belerang yang muncul dari kawah Gunung Lawu yagn dinamai Kawah Condro Dimuko terletak di sisi kanan perjalanan naik. Dari Taman Sari atas arah perjalanan naik, melewati Parang Gupito, menyisir pinggiran sisi Jurang Pangarip-arip yang lumayan menegangkan, jangan berjalan disisi kiri arah naik, dimusim hujan sedikit kehilangan konsentrasi bisa uups... tergelincir. Kelak-kelok kiri kanan menempuh tanjakan lumayan tajam sekitar  sampai di Pos III Penggik, sedikit di atas Pos III terdapat sebuah sendang yang dinamai Sendang Panguripan atau juga biasa dinamai sendang "bathok" karena bentuknya menyerupai tempurung kelapa, banyak cerita menarik tentang sendang ini dan hubungannya dengan Prabu Brawijaya terakhir, burung Jalak Gunung penjelmaan dari Dipo Kusumo dan Dipo Menggolo, burung yang bisa menjadi petunjuk arah ke Puncak Lawu, tapi kali ini aku ingin cerita tentang Rahasia Cinta bunga Edelweiss Gunung Lawu.
                Bunga yang sering dipakai untuk melambangkan keabadian ini, mulai berbunga di bulan April - Agustus, cuaca hampir selalu cerah di bulan-bulan itu, dan kebetulan sekali bertepatan dengan masa libur panjang  sekolah, para pendaki pemula yang belum tahu banyak tentang etika pendaki gunung yang menganjurkan (yang boleh di bawa pulang dari gunung hanyalah foto dan kenangan), hampir semua pendaki pemula ingin mengambil bunga Edelweiss meskipun hanya setangkai meski dengan resiko ketangkep pemeriksaan di pos penjagaan cemoro kandang, ada yang coba menyembunyikan di tas, di kaos kaki, si dalam lipatan tenda, atau dimanapun yang penting bisa membawa pulang barang setangkai untuk dipersembahkan kepada kekasih tercinta. sebenernya apa rahasia yang tersimpan dibalik keindahan bunga abadi itu, selain untuk menyatakan niatan cinta abadi untuk sang kekasih hati...
                ya.. memang harus setangkai saja, karena setelah dibawa pulang bunga itu akan mekar dan terbuka kelopaknya, lalu akan muncul warna  yang bisa berbeda antara bunga yang satu dgn  lainnya karena akan ada makna yang berbeda setelah kelopaknya terbuka, dan masing-masing punya makna yang berbeda pula.Warna merah muda,kuning, dan sedikit kebiruan dan putih
                Setelah diberikan untuk kekasih hati, beberapa hari kemudian kelopak bunga itu akan mulai terbuka, lalu akan muncul beberapa warna yang berbeda untuk tiap tangkai bunga,


"Jika yang muncul adalah Warna Kuning... maka cinta yang diberikan untukmu adalah sebatas perhatian saja, tanpa kedalaman hati, dan sebentar kemudian akan luntur atau berpindah perhatian ke lain perempuan."
                 
"Jika yang muncul adalah ungu kebiruan, maknanya cinta yang diberikan kekasihmu hanya  ketika kamu terlihat cantik dan menarik, dan jika kamu tidak lagi cantik perhatiannya akan berpindah ke lain perempuan yang lebih cantik"

               
Edelweiss merah muda jumlahnya sedikit dibanding kuning dan kebiruan, "Jika muncul warna merah muda, akan mempunyai makna, kekasihku hanya akan tertarik dengan penampilah fisikmu saja, perhatiannya tidak sampai ke kepribadianmu, atau hanya suka dengan casingmu saja.Tambahnya lagi dia hanya akan mendekat dan menemani jika kamu lagi senang"
               
Tapi.."Jika setelah diberikan kepada kekasihmu, bunga itu mekar dan berwana putih. Berarti..Cinta yang diberikan kekasihmu beserta setangkai bunga itu memang tulus dan abadi"

                Sekarang,bunga keabadian perlambang cinta ini sudah susah untuk didapat di sekitar pinggir jalan pendakian, karena tangan tangan egois yang sengaja memetiknya dari Gunung Lawu untuk diberikan kepada pasangannya atau sekedar disimpan di rumah.
                Jadi itu sedikit informasi yang aku dapat dari seniorku sepanjang perjalanan Cemoro Kandang-Hargo Dalem 3.148 dpl - Hargo Dumilah 3.265 dpl, dengan anjuran "jangan bawa pulang apapun dari gunung selain foto dan kenangan". Semoga bermanfaat yaa^^Jangan lupa tinggalkan koment anda.Terimakasih.     
 
sumber artikel ini di sunting disini